Rabu, 09 November 2011

Hadiah Terindah untuk Ratu


Malem Senin aku pulang dari Jakarta usai mencari buku murah yang ada disana. Maklumlah anak kuliahan pengennya yang murah-murah. Tiba-tiba saja handphoneku bernyanyi dengan nada dering Maher zain yang lagi hitz dipasaran dengan judul lagu “ Insya Allah”.


“Assalamu’alaykum Mbak Nisa!” Sapa Sarah dari Bogor.
“ Wa’alykumussalam Mbak.” Jawab aku dengan senang.
“ Mbak, insya Allah Sabtu ini Sarah mau ke Cilegon. Minggu pagi nanti kita ke pantai Anyer ya Mbak. Mbak ada di rumah kan?”
“ Alhamdulillah ada Sarah.”
“ Alhamdulillah, yowis sampai ketemu hari Sabtu ya Mbak!”
“ Oke.” Ditutuplah dengan salam dari Sarah.


Sarah merupakan sahabat Nisa yang tanpa disengaja yang sudah Allah atur dalam skenarioNya. Waktu itu kita sedang mengikuti acara seminar nasional IPTEK di Universitas Indonesia Depok Jakarta. Aku dan Sarah mendapatkan amanah yang sama disebuah organisasi kampus internal masing-masing di bidang Akademik dan kami sama-sama angkatan 2006. Sarah merupakan mahasiswi Ilmu dan Teknologi Pangan IPB. Sedangkan aku mahasiswi Agroekoteknologi UNTIRTA Banten. Kita juga senang menulis, berdiskusi tentang kegiatan keilmiahan di kampus masing-masing tentunya untuk saling memotivasi agar kampus kita ke depan lebih baik dan maju dengan pengembangan potensi akademik yang di miliki mahasiswa umumnya. Banyak pengalaman yang aku alami bersama sarah walaupun jarak jauh yang membatasi kita dengan menghabiskan waktu kurang lebih 5 jaman Cilegon- Bogor tetapi kita saling komunikasi. Aku tunggu dirimu di Cilegon, Sarah! Usai mengingat kenangan bersama.



Mentari bersinar seakan-akan bumi ini nampak girang karena diberi kehangatan yang sungguh luar biasa nikmatnya dengan sang pencipta. Namun rasanya suasana yang sekarang, tak seindah dan sesegar dulu lagi akibat debu berterbangan bersama angin membuat pernafasan ini terganggu dan menjadi penyakit. Kini masyarakat banyak menggunakan masker untuk menjaga kesehatan pribadinya dan meminimalisir debu yang begitu tebal. Begitu dengan Nisa yang alergi dengan debu ia pun menggunakan masker bila keluar rumah. Usai sarapan dengan menu favoritnya roti selai strobery dan susu cokelatnya Nisa beranjak ke kampus dengan Bismillah.


Angkot silver menghampiriku ketika aku berdiri di pinggir jalan raya untuk menunggu angkot yang aku tumpangi. Di dalam angkot aku bertemu dengan teman SMAku. Dia namanya Bagas yang dulu sempat menyukaiku. Anaknya lumayan baik, ganteng, manis, dan pintar. Teman sekelas perempuanku banyak yang menyukainya. Aku pun sejujurnya menyukainya. Akan tetapi aku hanya anggap dia sebagai seorang sahabat. Saking dekatnya waktu SMA dulu, banyak yang menyangka aku pacaran sama dia. Padahal aku punya prinsip tidak mau pacaran. Ehmm, jadi ingat nasihat sahabat. Jangan pacaran dulu kalau belum nikah. Lalu Bagas memulai menyapa sambil melihatkan senyuman tampannya.


”Hei Nis, mau kuliah?” Tanya Bagas dengan sopan dan sedikit nervoues.
”Ya.” Sekilas menatapnya dan kembali menunduk karena malu. He.he.he.
”Pakai masker bagus juga, eh nyaman maksudnya ntar saya ikutan ahh.” Jawab Bagas dengan mengajak bercanda.
” Saya nggak tahan Gas, kalau nggak pakai masker sebab debunya.” Nisa berusaha menjelaskan dengan ramah.
” Emh...Ya sih.” Bagas kembali senyum.
Setelah itu Bagas turun dahulu daripada Nisa. ”Duluan ya Nis.”
Nisa memanggukan kepalanya.


Aku termenung didalam angkot silver menuju Simpang. Disetiap jalanan yang ada baik di kota maupun kampung semua rusak. Akibatnya kemacetan sering terjadi, kebanjiran bila tiba musimnya, parahnya lagi banyak terjadinya kecelakaan. Nisa pun teringat dengan ucapan sahabatnya itu ketika main ke rumahnya di Anyer. Bahwa keadaan Banten saat ini makin parah dan ketidakpedulian pemerintahan Banten khususnya Ibu Ratu. Padahal Banten sedang mengahadapi berbagai masalah yang besar salah satunya mengenai infrastruktur jalan. Lihat saja jalanan di kota besar seperti Anyer yang memiliki potensi sebagai tempat parawisata yang begitu dahsyat potensinya untuk dikunjungi tapi dalam perjalanannya mengalami kendala yaitu jalanan rusak tanpa ada perbaikan segera. Kemudian kota Industri di Cilegon masih ada juga jalanan yang berlubang, hancur yang mengakibatkan banjir tepatnya di daerah pusat perbelanjaan Ramayana Mall Cilegon. Kota Serang pun demikian sebagai ibukota Banten sangat memprihatinkan. Kita tengok Terminal Pakupatan yang ada di Banten seperti tidak terurus dengan rusaknya fasilitas, kumuh dan kotor membuat orang tak nyaman untuk berlama-lama menunggu bus begitu juga bus yang hendak mencari penumpang.


Padahal terminal sebagai pusat perhubungan antar kota dan provinsi namun apa keadaannya, hancur bukan main, seperti bukan terminal melainkan pasar. Bagaimana pun juga ini sudah menjadi kewajiban tugas pemerintah untuk segera memperbaikinya. Jangan hanya kepentingan pribadi saja yang di utamakan dengan papan iklan dimana-mana tetapi kepentingan rakyat tidak diperhatikan. Ini adalah hadiah terindah untuk ibu Ratu untuk segera memperbaiki fasilitas yang ada dan jalanan yang semakin rusak. Kalau dibaratkan kata sahabatku fasilitas dan jalanan ini tak seindah dan semulus dengan wajahmu ibu Ratu! Nisa terus mengkritik. Banten terbilang jalanan yang paling terjelek diantara propinsi lainnya. Sangat miris memang, bagaimana dengan persolan yang lainnya juga seperti sarana dan prasarana pendidikan yang masih kurang perhatian karena masih ada saja sekolah yang beratapkan bocor dengan runtuhnya bangunan, masalah ekonomi dengan banyak pengangguran di propinsi Banten dan kinerja pegawai yang hanya mengisi absen saja, itu akibat kurang kontrolnya dari pemerintahan juga, dan sebagainya.


Bukankah jika infrasturktur jalannya bagus, pendapatan masyarakat tentunya bisa meningkat untuk Banten? Dan setelah pendapatan meningkat, tentunya semua sektor seperti pendidikan, kesehatan juga akan mengikuti? Seharusnya ibu Ratu Banten lebih tanggap lagi dengan persoalan ini. Karena Banten membutuhkan pemimpin yang penuh semangat yang tinggi dengan kerja yang maksimal dan pengorbanan dalam membenahi Banten untuk rakyat. Banten perlu ditingkatkan lagi ibu Ratu. Melihat ketidakpuasan layanan publik membuat masyarakat geram dengan pemilihan Gubernur Banten nanti. Bagaimana Banten ke depan? Apakah akan semakin terpuruk?


Menyedihkan bukan? Semakin jelas bahwa ibu Ratu itu sangat cuek dengan Banten. Seolah tidak ada masalah. Aku jadi malu menjadi warga Banten. Malu dan malu. Apakah kamu juga malu sebagai warga Banten? Apa lagi nanti kedatangan sahabatku Sarah dari Bogor. Hiks..hiks..Sedih menjadi orang Banten. Astagfirullah aku keasyikan merenung Banten. Sudah sampai mana ini? Nisa kebingungan akibat melamun. Kemudian Ibu yang ada di sampingnya bilang.


“Mau kemana Mbak?”
“Mau ke Simpang Bu.” Jawabku sambil tersenyum malu.
“ Owh, bentar lagi Mbak, sedang macet di depan.” Ujar Ibu yang membawa anak kecil.
“ Ya Bu terima kasih.”


Sesamapai di Simpang tepat lampu merah aku turun. Untuk melanjutkan perjalananku menuju kampus tercinta dengan menyambung naik angkot merah menuju damkar. Setelah sampai di Damkar akupun naik bis besar melewati tol menuju kampus UNTIRTA. Perjalanan dari rumah sampai kampus lumayan cukup jauh dan melelahkan apalagi aku lakukan setiap hari seperti ini. Tapi sebenarnya asyik juga karena banyak pengalaman yang aku dapatkan selama di jalan. Senyum mekar di wajahku.


Pukul setengah delapan Nisa tiba di kampus. Di depan gedung perkuliahan masih ada mahasiswa yang nongkrong dengan berjejeran mahasiswa lainnya. Hatinya ngomel sangat. Kenapa tidak nunggu di dalam saja, padahalkan dosen bentar lagi akan segera masuk ke kelas? Nggak jauh beda dengan SMA dulu. Kenangnya Nisa. Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Harapnya. Nisa anak yang pendiam, malu, manis, ramah, disiplin dan rajin. Makanya dia tidak pernah terlambat datang ke kampus. Selain itu juga Nisa aktif di dalam kelasnya. Sehingga ia mudah dikenal dengan dosennya. Dia mempunyai harapan suatu saat nanti Banten akan di pimpin dengannya, besar harapannya. Pemimpin yang rela berkorban demi rakyat-rakyatnya.


Senja yang indah. Suasana kampus masih terlihat jelas dan rame dengan mahasiswa yang terlibat aktif dalam kegiatan di kampus. Akupun tersibukkan dengan kegiatanku di luar masjid sambil menjual coklat yang penuh aneka bentuk dan warna-warni sambil menunggu sahabatku Sarah dari Bogor. Sarah dimanakah kamu?



Cilegon Indah, 4 Agustus 2011.

By. Alzena Valdis Rahayu


Aku Cemburu


Malam minggu yang dingin di kota hujan pukul tujuh lebih lima belas menit usai solat isya berjamaah. Daun-daun hijau yang kini terlihat gelap pun ikut menari dengan lincah seakan tak mau kalah dengan kita yang penuh keramaian di dalam istana. Hembusan angin yang kuat membuat hawa terkantuk-kantuk. Tetapi Sabrina dan teman-temannya tetap berkumpul di ruang TV sambil bercerita seru, heboh, dan sebagainya. Ada juga yang sambil menikmati makan malamnya dengan soto Bogor, akhirnya beberapa kursi hijau muda daun yang berderet mengelilingi ruangan tak bersisa satupun. Suasana penuh canda, dan tawa kala itu. Selepas membicarakan tentang kesibukan masing-masing. Tiba-tiba saja Sarah menanyakan yang membuat aku tercengang dan membawaku untuk senyum manis.



“Kenapa tanya itu, Sar?”. Kata Sabrina yang biasa di sapa dengan Rina. Padahal aku belum ada. Heuheu. Sambil berdoa dalam hatinya “Ya Alloh berikan jodoh yang terbaik untukku”, harapku dengan begitu sangat pada Sang Pemberi Cinta. Semua teman-temanku mendesak untuk aku berbicara.“ Ayo jawab dong Mbak, kalau Mbak Rina kapan nikahnya?” Ayu yang menunggu wisuda sarjananya di awal bulan Desember nanti memaksa aku untuk menjawab pertanyaan Sarah. Akhirnya dengan sulit sayapun menjawabnya “Bila jodoh sudah datang dan Alloh menyegerakan untuk saya menikah, Bismillah saya siap... insya Alloh”. “ Ciieee, Mbak...” Semua teman-teman kosan tersenyum sambil mengucapkan tasbih. “ Sambil S2 juga yah Mbak?” “ Do’akan saja semoga lancar,” Pertanyaan terus berderet. “ Mau calon suami seperti apa Mbak?” Ayu terus bertanya dengan khasnya yang cerewet. Begitupun dengan kehebohan teman baruku sepulang dari kampung Inggris di Pare Kediri selama enam bulan dalam mempersiapkan keberangkatannya untuk magang ke luar negeri, “Kalau ada yang menanyakan ke aku?” Bela menimpali pertanyaannya sendiri dan di jawab sendiri pula. “Aku ingin menjadi istri menteri aja ahh .” Bela dengan wajahnya yang ceria dan membuat humor. Haahaa, semua tertawa kecil dengan ulahnya Bela. Alhamdulillah pertanyaan Ayu belum sempat aku jawab. Ketika Diana teman sekamarku pulang selesai isi agenda rutin tiap pekannya di Masjid Al-Hurriyah IPB. Dalam hatinya Sabrina berbicara. Biarkan Alloh yang menentukan pasangan hidupku karena Dia Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya.



Diana adalah sosok akhwat yang banyak dikagumi disini, termasuk aku sendiri, emmh. Mahasuci Alloh. Dia anggun, cerdas, isi ucapan ya penuh makna yang membuatku terpesona ditambah logat Jawanya yang medok sebagai ciri khas kalau dia asli orang Jawa Timur, ibadahnypun sangat keren, begitu dengan akhlaknya juga. Aku merasa cemburu terhadapnya. Bersyukur aku bisa mengenalnya, Subhanalloh, Alhamdulillah, Walaillahaillalloh, Allohu akbar. Sesungguhnya Alloh sangat menyukai hambanya yang berharap dan meminta kepadaNya karena Dia Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan hambanya. Singkat cerita yang aku ketahui tentang Diana. Bahwa dia berazam kuat untuk menikah setelah sidang skripsi kelar, akhirnya ia memberikan proposal kepada sang Murobinya (guru ngaji) untuk di proses lebih lanjut. Allah telah memberikan kelancaran dan menjawab permohonanya. Alhasil ia akan segera menikah dengan seorang ikhwan yang sama-sama aktivis dakwah. Subhanalloh yah. Untuk yang belum. Hehe. Jangan hopeless dulu ketika harapan atau cita-cita belum dikabulkan. Skenario Alloh lebih indah dan jauh lebih baik dari yang telah kita buat. Teman-temanku bilang jangan galau lagi!!!. Maha benar firmanNya. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan dalam surah Ar-Rahman. Kita harus selalu bersyukur dalam menanti cinta. Bukankah Alloh sudah menyiapkannya di Lauhul Mahfudz jadi jangan khawatir untuk yang masih mencari, dan sabar terhadap do’a-do’a yang kita minta bisa jadi do’a yang kita minta akan di beri lebih dari apa yang kita minta.



Suasana makin rame saja ketika teman sekamarku datang yang memang sudah planning akan segera menikah di bulan Desember nanti. Semua orang bertuju kepada dia. Memang seusiaku ini lagi pada semangat untuk ngomongin hal semacam itu karena masa depan untuk memiliki keluarga yang sakinnah, mawadah, dan waromah perlu direncanakan dari sekarang. Kondisinya nggak jauh beda dengan sahabat-sahabatku di kota Serang, dan di Cilegon, sama saja, kalau ngumpul pasti ujung-ujungnya N. Hahaa. Nggak ada bosennya deh. Nasihat dari sahabatku dalam mencari jodoh. Perbaruhi niat kita setiap saat dan ikhtiar tetap dilakukan dengan seoptimal mungkin dan lanjutnya kita tetap Tawakal, semoga Alloh memberikan jodoh sesuai dengan kebutuhan kita bukankah begitu???^_^



Jodoh itu...
Ibaratkan dua aliran sungai
Yang bertemu dimuara
Keduanya berasal dari
Sumber mata air yang sama
Yang tertulis di Lauhul Mahfudz
Lalu mereka menjalani
Kehidupan masing-masing
Seperti dua aliran sungai mengalir itu
Hingga pada akhirnya
Mereka bertemu di muara
Menuju lautan cinta
Dalam pertemuan
Yang mendebarkan jiwa
Dan mengharap ridho pada-Nya



“Barangsiapa sangat mencintai seseorang kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa dan menyimpan cintanya sampai ia mati karenanya maka ia telah mati syahid. (HR. Hakim, Hatib Asyakir dan Dailami).
Dalam riwayat lain dikatakan:
".....Ia simpan cinta dengan penuh kesabaran sampai ia tergolong syahid.
“Barang siapa memberi karena Alloh, menolak karena Alloh, mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh dan menikah karena Alloh maka sempurnalah imannya” (HR. Ahmad)



Tulisan ini terinspirasi dari sahabat baruku yang lagi sibuk mempersiapkan walimatul ursy, semoga Alloh memberikan kemudahan untuk mu ukhty dan semoga aku segera menyusul. Aamiin ya Robbal’almin.

Semoga bahagia menyertai kita selalu^_^

By. Ririn Rahayu
Kota Hujan, 8 November 2011
21:38

Jumat, 02 September 2011

Don’t Give Up UNTIRTA

Perkembangan tentang ilmu pengetahuan yang semakin cepat dan cangih dalam kurun waktu yang singkat, membuat negara-negara merasa tertantang bagaimana bisa menjadi world class university begitu juga dengan Indonesia. Banyak perguruan tinggi yang berlomba-lomba menuju world class university, salah satunnya UNTIRTA.

UNTIRTA merupakan salah satu universitas negeri yang dibilang cukup baru di Banten, untuk menjadi world class university memang tidak mudah karena banyak sekali yang harus dilakukan menuju universitas kelas dunia. Maka dari itu dimulai dari hal yang kecil untuk mempersiapkan menjadi kelas dunia, jangan berlebihan dan terburu-buru. Seperti kondisi yang ada di UNTIRTA yang masih banyak kekurangan dari berbagai aspek yang ada baik PSDM atau pun fasilitas, jika kita ingin menjadi kelas dunia.

Dalam mewujudkan itu UNTIRTA mesti optimis kalau UNTIRTA bisa bersaing dengan universitas lain yang ada didalam negeri (ITB, UGM, IPB dan lain-lain) atau pun luar negeri (Cina, Korea, Singapura, Thailand dan lain-lain). Apa saja langkah-langkah yang mesti dilakukan. Menurut Profesor Kai Ming Cheng dosen Universitas Hongkong menjelaskan ada empat hal yang harus ada dalam setiap satuan pendidikan tinggi yaitu reputasi internasional, prestasi penelitian, lulusan yang terkemuka, partisipasi internasional. Kalau empat hal ini belum terpenuhi jangan bermimpi dulu menjadi universitas kelas dunia. Sedangkan menurut Rektor Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS) Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD menyatakan, salah satu cara menuju world class university adalah bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi luar negeri yang kredibel. Kerja sama itu harus didasarkan pada prinsip saling menguntungkan dan bisa menjadi pemicu peningkatan kualitas pendidikan. Langkah awal yang baik untuk memulai kerja sama itu melalui penelitian bersama. Untuk memulai kerja sama bidang ini, kedua perguruan tinggi itu harus punya minat yang sama. Dengan kesamaan minat ini, kedua pihak akan bersinergi dengan baik. Ini yang harus kita usahakan bersama untuk mewujudkan itu. Jadi semua civitas akademika yang ada di UNTIRTA turut andil dalam membangun UNTIRTA sebagai kelas dunia.

Ada baiknya juga buat UNTIRTA memperbaiki reputasinya sebagai perguruan tinggi negeri di Banten, seperti dengan memperbaiki kualitas pendidikan dengan bekerjasama antara perguruan tinggi luar negeri, seperti Jerman atau Belanda, meningkatkan jiwa kretifitasnya dalam bidang penelitian yang dibilang masih rendah di Banten, baik dosen atau pun mahasiswanya, hanya sekitar 10%, serta lulusan yang dapat bersaing dengan universitas dunia dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan, karena fungsi mahasiswa itu sendiri adalah agen perubahan dan aktif berpartisipasi dalam setiap kegiatan internasional.

Mewujudkan universitas dunia bukan pekerjaan yang mudah bagi UNTIRTA yang masih terbilang baru. Apalagi yang ditawarkan oleh professor Kai Ming Cheng cukup tinggi. Maka dari itu ada beberapa solusi dari saya yang dapat menuju UNTIRTA kelas dunia, diantarannya adalah: Pertama, memperbaiki kualitas pendidikan. Dalam (artikel okezon.com, 2008) bahwa kualitas pendidikan Indonesia, terutama perguruan tinggi memang masih tertinggal dengan negara barat maka itu perlu strategi tepat untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Seperti halnya dengan kualitas pendidikan UNTIRTA yang masih tertinggal, dan juga banyak fasilitas yang kurang memadai sehingga terhambatnya proses pendidikan dan ini akan mempengaruhi reputasi perguruan tinggi itu sendiri, semisal lagi dalam teknik pengajaran di UNTIRTA masih ada saja dosen yang masih terfokus dalam teks book dalam memberikan pengajarannya, sehingga ini membuat mahasiswa jenuh dengan apa yang diberikan dosen saat kuliah berlangsung, kemudian kurang jelasnya dalam menyampaikan materi. Apa ini bukan berarti kualitas pendidikan kita masih rendah? dan pastinnya perlu ditingkatkan supaya tidak tertinggal dari perguruan tinggi ternama di Indonesia atau pun macan negara. Kedua, menumbuhkan jiwa kreatifitas. Setiap mahasiswa atau pun dosen pasti memiliki jiwa kreatifitas berbeda. Bisa berupa penelitian yang berdekatan dengan kondisi alam, sosial, dan budaya, atau pun menciptakan lapangan usaha yang bersifat enterpreunership sehingga melatih kemandirian mahasiswa dan dosen, serta bermanfaat bagi masyarakat dan mengurangi jumlah penganguran. Ketiga, menciptakan kampus yang akademis, kampus yang sudah lama diimpikan masyarakat Banten, yang didalamnya adalah orang-orang yang memiliki keahlian dan keilmuan tinggi, serta berwawasan luas, cerdas, kritis yang dapat membawa reputasi UNTIRTA berkembang maju diseluruh dunia, dan juga dijadikan pertukaran pelajar antar universitas luar negeri. Salah satu usaha yang dilakukan dalam pengembangan akademik ini adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca, berdiskusi, baik bahasa Indonesia atau bahasa internasional, dan lainnya, karena kita sebagai manusia yang dibekali oleh Allah SWT (akal) yang seharusnnya lebih paham dibanding seekor binatang (rayap) yang suka melahap buku hingga habis atau pun kancil yang selalu mengeluarkan idenya yang brilliant dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Dalam mewujudkan universitas kelas dunia sekali lagi jangan memperbanyak janji-janji yang bagus, namun usaha atau pekerjaan yang serius dan sungguh-sungguh, sehingga benar-benar terbukti hasilnya. Semoga dengan usaha bersama maka UNTIRTA mencapai world class university.


*Ririn Rahayu adalah mahasiswa Agroekoteknologi Untirta angkatan 2006 yang sedang belajar mendalami kepenulisan dan menjadi 10 finalis lomba artikel tingkat Universitas.

Tips Menjadi Pribadi yang Tegar


  1. Gunakan jaringan yang antum miliki.
  2. Orang yang bahagia & tegar tidak harus menghadapi segala sesuatunya sendirian, namun mereka cenderung memohon pertolongan.
  3. Kapan pun dan di mana pun, jika mungkin manfaatkan humor dan tawa untuk melihat sesuatu dari sisi yang berbeda agar tetap dalam sikap positif.
  4. Dengan segala upaya, belajarlah dari pengalaman, tapi jangan berkutat pada masa lalu – terutama pada hal-hal yang tak bisa diubah.
  5. Terapkan strategi berpikir yang berguna dan lakukan apa saja yang antum bisa untuk tetap bisa berpengharapan dan optimis akan masa depan.
  6. Jangan terlalu larut dalam duka, tapi tetaplah berimbang dalam memandang masalah.
  7. Jagalah kesehatan antum dan pastikan antum cukup tidur dan istirahat.
  8.  Terima kenyataan bahwa dunia memang tidak sempurna dan terimalah adanya perubahan.
  9. Jangan keluar dari maksud, arah, cita-cita, dan tujuan serta mimpi-mimpi antum.
  10. Jangan berhenti mengupayakan pencapaian tujuan antum.
  11. Cobalah untuk belajar lebih banyak tentang diri antum dan fokuslah pada hal-hal yang antum miliki dan yang ada di dunia. Semoga bermanfaat ^_^