Sabtu, 07 Juli 2012

Menggeramkan Minat untuk Membaca


Sering kali mendengar pengibaratan mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan, cadangan masa depan, sekaligus kontrol sosial. Dikatakan seperti itu karena mahasiswa adalah kaum intelektual dengan pengetahuan keilmuan di atas pelajar sekolah. Pernyataan ini hanya bagi kalangan mahasiswa yang benar-benar jatuh hati pada dirinnya sendiri, dalam mewujudkan kewajibannya sebagai mahasiswa yang akan diperlukan untuk masa depan.

Untuk mewujudkan itu mahasiswa harus jatuh hati dulu untuk membaca, baik artikel di internet yang memberikan informasi pengetahuan, buku tentang keilmuan, majalah, novel, ataupun koran yang dapat memberikan manfaat. Seseorang yang jatuh hati membaca, biasannya pengetahuan yang didapat memberi efek besar pada kehidupan, seperti orang yang belum tahu menjadi tahu, dibanding dengan mahasiswa yang gemar SMS-an, telponan atau bergosip yang tidak jelas tujuannya, sangat jauh diharapkan sebagai stok masa depan. Jadi betapa pentingnya membaca.


Mahasiwa Versus Pelajar

Jelas saja berbeda mahasiswa dengan pelajar. Saya pikir ada beberapa faktor yang membedakannya. Antara lain ; sikap, pengalaman, dan cara berpikir.

Sikap ; mahasiswa seharusnya lebih dewasa dan lebih terlihat dalam hal jati diri, ketika berada di luar maupun dalam kampus. Sedangkan pelajar cenderung bersikap masih manja atau childies dan belum terlihat siapa diri sebenarnya.

Pengalaman ; pengalaman yang didapat menjadi mahasiswa sudah banyak mulai mengenali karakter orang yang berbeda daerah, agama, dan budaya. Pengalaman organisasi mahasiswa lebih banyak daripada pelajar, karena pergaulan di kampus dalam skala luas, mau tidak mau harus pandai memilih teman dalam bergaul, karena akan berdampak besar terhadap perilaku baik buruknya seseorang. Mahasiswa biasanya mudah lepas kontrol karena jauh dari orangtua, sehinggga dikatakan mandiri. Namun kenyataannya sekarang mahasiswa yang mandiri atau jauh dari orangtua lebih pada pergaulan yang bebas, dan ini akan memberikan efek yang buruk, terutama untuk dirinnya sendiri, orangtua serta orang lain. Dengan contoh pergaulan bebas, narkoba atau minum alkohol yang dapat memabukkan dan ketagihan.

Terakhir cara berpikir; mahasiswa sudah mengerti mana yang harus dilakukan dan yang tidak. Jadi cara berpikir mahasiswa cukup dewasa dan sulit untuk dipengaruhi, kecuali mahasiswa yang memang tidak punya pendirian. Sedangkan anak sekolah masih kurang konsisten pada keputusan yang ia ambil, terkadang bimbang dan mudah dipengaruhi.

Manakah yang Lebih Penting, Buku atau Pulsa?

Teknologi semakin canggih, dan kehidupan dari masa ke masa mengalami perubahan, dimana perubahan kehidupan masyarakat yang selalu ingin serba instan. Dari majalah Annida edisi Maret 2008 dijelaskan, remaja sekarang lebih senang membeli pulsa dibanding membeli buku, padahal manfaatnya bagi kalangan remaja jika membeli buku sangat positif pada pendidikan, dibanding pulsa yang lebih sedikit manfaatnya dan tidak tahan lama pemakaiannya. Pada majalah ini tertulis, anak remaja musuhan sama buku, gimana pendapat anda mengenai hal ini? Mungkin jawabanya sangat disayangkan sekali kalau remaja sekarang jauh dari yang diharapkan oleh bangsa kita sebagai penerus kehidupan yang lebih baik nantinya.

Kesadaran yang Harus Dibangun

Betapa pentingnya kesadaran masyarakat kampus tentang arti membaca dan manfaat dari membaca. Membaca tidak memerlukan tenaga yang kuat dan pikiran yang dapat menguras otak. Membaca juga dapat melatih diri dalam mengasah kemampuan, sejauh mana yang ia tahu dan yang belum diketahuinya.

Bahkan perintah membaca juga tertera dalam Al-Qur’an, surah al-Alaq ayat pertama yang artinya, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan”. Jadi membaca sebenarnya sudah selayaknya dimulai sejak kecil, saat duduk di bangku TK, SD sampai akhir hayat. Membaca yang bunyinya Iqro merupakan perintah yang salah satunya sangat dianjurkan bagi manusia. Manfaat membaca selain mudah dilakukan semua orang antara lain menambah pengetahuan, menambah rasa percaya diri dengan dibekali ilmu pengetahuan, memilki rasa humor, berani mengeluarkan pendapat, dan disenangi banyak orang tentunya karena wawasan yang luas.

Perpustakaan yang Nyaman dan Lengkap

Perpustakaaan yang nyaman dan lengkap merupakan idaman semua orang, karena di dalamnya memberikan ketenangan bagi pembaca atau pengunjung. Menurut Hafidi ZA dalam artikel Radar Banten menumbuhkan minat baca bisa melalui perpustakaan, karena perpustakaan merupakan sarana mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan. Tentunya buku-buku yang tesedia tidak hanya buku bedasarkan kurikulum tapi juga berhubungan dengan pengetahuan umum.

Sementara menurut Prof. Yoyo Mulyana mantan Rektor Untirta, perpustakaan tak hanya sebagai tempat peminjaman buku yang apa adannya, tapi sebagai tempat pembelajaran yang lengkap, dan perpustakaan yang dinginkan adalah lengkap dan nyaman sehingga dapat memberikan dampak positif dalam menumbuhkan budaya literasi. Jika sudah menjadi kebiasaan, akan merambat mencoba kebiasaan lainnya yakni menulis.

Mahasiswa Aktif Pandai Memanfaatkan Waktu

Sudah dijelaskan sebelumnya mahasiswa lebih banyak menyerap ilmunya karena waktu belajar mereka bertambah. Di bangku perkuliahan, ilmu yang diberikan semakin tinggi dan jauh berbeda dengan pelajar, waktunya pun dinamis, tidak terikat aturan waktu. Seperti halnya dengan tugas wartawan, yang selalu dikejar deadline. Walaupun tugasnya sudah selesai yang satu dalam meliput berita, ketika ada kejadian yang mendadak, mau tidak mau harus meliput lagi ke lapangan. Artinya mahasiswa juga demikian, waktu kuliah bersifat dinamis dan singkat. Mau tidak mau kita sebagai mahasiswa harus pandai mengatur waktu. Apalagi mahasiswa yang sambil kerja atau organisasi, harus benar-benar bisa memanage waktunya dengan maksimal.

Di tengah kesibukan mahasiswa dalam organisasi kampus, cukup banyak terlihat, dengan sebutan aktivis kampus, dan kemana-mana membawa atau mengenakan jas almamater menunjukan dia aktif di organisasi. Memang mahasiswa yang berorganisasi mempunyai nilai tambah dibanding mahasiswa yang hanya kuliah-pulang kalau disingkat kata orang kupu-kupu. Mahasiswa yang aktif berorganisasi, pengetahuannya semakin bertambah. Selain di bangku perkuliahan ia juga mendapatkan pengetahuannya di organisasi dan berbeda dengan mahasiswa yang sekedar ngampus saja, dari dia berbicara lebih berani, mengeluarkan pendapat dan berpenampilan yang cool dan gaul. Mungkin banyak juga orang beranggapan mahasiswa yang berorganisasi itu lebih lama lulusnya, tapi tidak semua organisator seperti itu. Kenapa? Karena di saat kesibukannya yang padat dan waktu yang sebentar, mahasiswa organisator meluangkan waktunya untuk membaca buku walau hanya setengah jam bahkan sepuluh menit. Membaca merupakan gudanganya ilmu pengetahuan. Jadi ada baiknya juga mahasiswa aktif berorganisasi mendapatkan pengetahuan dari membaca, entah baca koran, majalah atau buku-buku keilmuan. Yang terpenting adalah ada keinginan menjadi mahasiswa yang aktif berorganisasi dan juga aktif membaca, baik dalam kondisi sesibuk apapun sehingga membuktikan organisator bukan lagi mahasiswa abadi tapi mahasiswa yang paling pandai memanfaatkan waktu dan lulus dengan terbaik.

Justru yang disesalkan, tipe mahasiswa yang pasif di kampus, dia hanya mendapatkan pengetahuannya lebih sedikit dari kuliah. Padahal kuliah yang diberikan dari dosen kurang puas untuk memenuhi kebutuhan orang yang memiliki predikat intelektual seperti mahasiswa. Dalam hitungan hari kuliah yang didapat hanya 25 %, selebihnya mencari sendiri. Itupun kalau hanya ada tugas saja rajin untuk datang ke perpustakaan, sekadar mencari referensi dan membaca sebentar. Tipikal mahasiswa seperti ini jumlahnya lebih besar dibanding mahasiswa organisator. Dalam hal pergaulan pun lebih sempit, karena yang dikenalnya hanya ruang lingkup fakultas atau jurusan, sebaliknya organisator mengenali semua fakultas dan banyak yang mengenalinya sebagai aktivis.

Jadi, mumpung masih ada kesempatan atau waktu untuk mengejar tujuan kita sebagai agent of change atau cadangan masa depan, memperbaiki keadaan bangsa dan negara melalui semangat membaca.

** Penulis sedang iseng membuat artikel

2 komentar:

fatma wati mengatakan...

tapi gimna caranya buat negbuat mood baca tuh muncul teh ??

Alzena Valdis Rahayu mengatakan...

Kalo emang lagi kurang mood, te2h saranin jangan dipaksain buat baca, karena bikin kita ga masuk apa yg kita baca nantinya percuma kan. Untuk mengatasi itu te2h pribadi biasanya mengganti aktifitas lain, misalnya gini yang tadinya kita sedang asyik baca tiba-tiba jadi BT maka ganti aktifitas tersebut yang membuat kita jadi refresh bisa dengan chatingan sama temen via email, FB, atau nulis, atau yang suka nonton bisa juga tuh nonton dulu untuk meredakan bad mood, setelah itu baru deh buka lagi bacaan yang akan kita baca, gitu de, semoga bermanfaat yahhh ^_^