Rabu, 10 Oktober 2012

Pangan Soal Hidup dan Mati


Istilah pangan sebagai soal hidup dan mati tidaklah istilah baru karena Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno pernah mengatakan bahwa “pertanian adalah soal hidup mati bangsa”. Penggalan kalimat tersebut memiliki sarat makna dan ketegasan, bahwa pertanian adalah penentu hidup matinya bangsa. Seakan tersimpan pesan di dalamnya, Jika pertaniannya diunggulkan, niscaya bangsa kita hidup sejahtera, namun jika pertaniannya dianaktirikan, maka sampai kapan pun, bangsa kita hanya akan menyandang predikat negara berkembang dan terlunta-lunta masalah pangannya.
Sebagaimana kita tengok hari ini, paradigma pembangunan pertanian kebanyakan hanya sebatas wacana. Bagaimana tidak, bangsa yang hampir 45% rakyatnya hidup dari dunia pertanian ini seakan kesulitan memberi makan rakyatnya sendiri. Impor beras sebagai pangan primadona rakyat setiap tahun menjadi kebijakan pilihan. Kesejahteraan petani seolah tergadaikan, setiap masa tanam tiba, harga pupuk yang secara kebijakan bersubsidi malah tetap mahal karena kurang pengawasan. Belum masalah iklim yang semakin sulit ditebak dan harga pangan yang ketika panen tiba tak juga mensejahterakan. Kondisi ini semakin diperparah dengan kepedulian generasi mudanya yang semakin memalingkan muka dari dunia pertanian.
Masalah pertanian sejatinya adalah masalah persepsi. Karena nyatanya, persepsi hampir setiap orang pada pertanian selalu tidak sama. Pertanian di benak orang seakan menjadi dunia ketiga yang didalamnya hanya ada cangkul, sawah, lumpur dan kerja para kuli. Padahal memandang pertanian sebaiknya harus dengan jeli, dan luas. Karena dalam pertanian, sektor hulu sampai hilir selalu dilibatkan. Pertanian juga bukan hanya gabah, tetapi juga sayur-sayuran, buah-buahan, daging, susu, bahkan sampai cemilan dan makanan-makanan siap saji yang biasa kita makan. Selain itu pertanian juga membahas tentang gizi, pengawetan, pengemasan dan pemasaran serta bidang ilmu yang dapat di aplikasikan dalam keseharian seperti ilmu sosiologi, ekonomi, komunikasi dan pengembangan masyarakat.
Pertanian adalah soal hidup mati. Soal hidup mati ini, terasa sedih rasanya ketika di kampus pertanian terbaik seantero negeri ini : Insitut Pertanian Bogor (IPB), yang senantiasa memandang pertanian secara komperhensif dengan lengkapnya jurusan-jurusannya masih terdengar suara sumbang tentang pertanian dari mahasiswanya sendiri. Ada yang bilang, mahasiswa IPB bisa di segala bidang, asalkan bukan pertanian. Padahal IPB sebagai kampus dengan basic pertaniannya selayaknya menjadi garda terdepan dalam membangun persepsi soal pertanian, terutama bagi generasi muda bangsa ini. Bagaimana tidak, jumlah keseluruhan dari mahasiswa IPB sebanyak kurang lebih 20.000 orang, dan kebanyakan berasal dari daerah yang notabene lumbung petani.
Persepsi positif itu bisa dibangun melalui integritas dosen-dosen dan alumninya terhadap pertanian, melalui kegiatan-kegiatan mahasiswanya yang based on pada pertanian, dan melalui sistem pengajarannya yang menekankan arti penting pertanian, pada semua jurusan, tak peduli itu jurusan-jurusan baru yang mungkin sedikit hubungannya dengan pertanian. Karena kalau kita jeli, tujuan berdirinya IPB ini salah satunya adalah untuk memberikan kontribusi terhadap masalah pengadaan pangan rakyat, sebagaimana penggalan kalimat awal diatas yang merupakan kalimat pidato Bapak Presiden pertama kita Soekarno sebagai founding father, pertanian soal hidup mati bangsa.




Tidak ada komentar: